Kamis, 25 September 2025

Arga Menulis dan Mengadvokasi Lingkungan


Gambar : Kegiatan Jumat Bersih Siswa Difabel

Sebagai penulis dari Cianjur yang hidup dengan Cerebral Palsy dan menggunakan kursi roda, saya mendapatkan banyak pengalaman dari pendidikan di SLB-D YPAC Bandung. Di sana, saya tidak hanya belajar pelajaran umum, tetapi juga diasah untuk menjadi pribadi yang mandiri. Salah satu program yang paling berkesan adalah Program Jumat Bersih yang rutin diadakan.

Program ini sederhana, tetapi maknanya mendalam. Seluruh siswa dilibatkan, termasuk yang memiliki keterbatasan fisik seperti saya. Guru-guru membagi tugas sesuai kemampuan setiap siswa. Contohnya, teman-teman yang bisa menyapu akan menyapu, sementara saya yang menggunakan kursi roda bisa membantu dengan cara lain, seperti mengelola atau mengarahkan teman-teman. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk berkontribusi. Justru, hal itu menuntut kreativitas agar setiap orang dapat berpartisipasi dengan cara yang berbeda.

Pendidikan di SLB-D YPAC tidak hanya membentuk saya sebagai individu, tetapi juga membuka wawasan tentang isu-isu yang lebih besar. Saya menyadari bahwa dampak perubahan iklim, seperti banjir, sangat memengaruhi mobilitas saya sebagai pengguna kursi roda. Banjir bukan hanya genangan air biasa, tetapi juga rintangan besar yang membuat saya kesulitan beraktivitas dan membahayakan keselamatan.

Pengalaman pribadi ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab semua orang, baik disabilitas maupun non-disabilitas. Inilah yang mendorong saya untuk bergabung dengan Pergerakan Disabilitas dan Lansia (DILANS).

DILANS Keadilan Iklim untuk Semua

Para ilmuwan se-dunia yang tergabung dalam International Panel on Climate Change (IPCC) telah mengkonfirmasi bahwa perubahan iklim adalah realitas peradaban yang tak terhindarkan. Kita akan mampu beradaptasi andaikan suhu permukaan bumi dipertahankan pada suhu rerata 1.5 derajat Velcius di akhir abad ini. Karena itulah pada tahun 2015 lahir Kesepakatan Paris untuk memenuhinya. Saat ini pencapaiannya masih jauh dari harapan.

Apa dampaknya? Akumulasi gas rumah kaca di atmosfir tak terhindarkan yang akan berakibat pada naiknya permukaan air laut, intensitas curah hujan, meningkatnya suhu perkotaan dan berbagai bencana hidrometeorologis yang menyertainya serta berbagai penyakit yang muncul karena perubahan iklim.

Penyandang disabilitas daya tahan (resiliensi) nya lebih rendah dari kelompok non-disabilitas. Hambatan mobilitas akan diperparah dengan iklim yang berubah. Dehidrasi diantara yang saya rasakan ketika suhu perkotaan meningkat.

DILANS didirikan oleh aktivis lingkungan yang juga seorang difabel, yang menyadari bahwa krisis iklim memiliki dampak yang lebih berat bagi penyandang disabilitas. DILANS percaya bahwa kemajuan harus diukur dari kelompok yang paling tertinggal, sesuai dengan prinsip "no one left behind" dan "nothing about us, without us". Artinya, setiap kebijakan, terutama terkait lingkungan, harus melibatkan penyandang disabilitas.

Visi DILANS selaras dengan pengalaman saya di SLB-D YPAC Bandung. Di sekolah, Program Jumat Bersih melibatkan semua siswa agar merasa memiliki dan bertanggung jawab. DILANS melakukan hal serupa di tingkat yang lebih besar, yaitu dengan mendorong perubahan kebijakan agar para difabel memiliki representasi di parlemen dan komite di dewan komisaris korporasi.

Visi dan misi DILANS Indonesia adalah untuk mewujudkan dunia yang inklusif dengan memobilisasi aktor baik pemrintah maupun non-pemerintah. Dorlongan percepatan inilah yang saat ini digulirkan dan diadvokasi tidak terbatas pada aktor domestik, juga internasional. 

Organisasi ini mengadvokasi agar kebijakan pembangunan tidak hanya ditangani oleh satu kementerian, melainkan juga melibatkan kementerian lain seperti kesehatan. Mereka menyuarakan bahwa perubahan iklim tidak hanya soal kenaikan suhu atau cuaca ekstrem, tetapi juga menyangkut berbagai hambatan aksesibilitasnya termasuk hambatan infrastruktur yang sehari-hari dihadapi oleh penyandang disabilitas, seperti jalanan yang tidak ramah kursi roda.


Gambar : Agenda rutin DILANS (Disabilitas Dan Lansia)

Representasi Warga Disabilitas

Walaupun urusan disabilitas sudah meiliki fondasi normatif Konvensi PBB (UNCRPD) yang telah diturunkan oleh negara melalui UU 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas dan berbagai peraturan yang lebih teknis di berbagai tingkat oemerintahan baik pusat maupun daerah, pelaksanaannya masih harus terus diperjuangkan.

Farhan mengusulkan dua hal: pertama, UU Pemilu yang akan datang (2029-2034) harus memberikan afirmasi untuk penyandang disabilitas. Tidak dipertrungkan dengan non-disabilitas.

Kedua, penyandang disabilitas duduk dalam Komite Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (ESG), misalnya sebagai Komisaris di Perusahaan baik pemerintah maupun non-pemerintah. Lebih dari 1000 BUMN/BUMD yang bisa melakukannya. Gagasan ini bukan sesuatu yang mustahil. Banyak perusahaan global yang sudah mempraktekannya.

Dengan dua posisi penting ini kita bisa berharap bahwa kehidupan tanpa diskriminasi bisa diwujudkan.

Kolaborasi sebagai Kunci

Pesan dari DILANS dan SLB-D YPAC Bandung sangatlah jelas: kolaborasi dan inklusi adalah kunci. Guru-guru di sekolah saya menyesuaikan tugas agar setiap siswa, terlepas dari keterbatasannya, dapat berpartisipasi. Demikian pula, DILANS berjuang agar penyandang disabilitas tidak lagi dianggap sebagai objek belas kasihan, tetapi sebagai subjek yang memiliki hak dan peran dalam setiap keputusan.

Sebagai seorang penulis, saya percaya bahwa cerita pribadi dapat menjadi alat yang kuat untuk mengadvokasi perubahan. Dengan membagikan pengalaman saya, dari Program Jumat Bersih di sekolah hingga tantangan menghadapi banjir, saya berharap dapat menunjukkan bahwa isu lingkungan dan disabilitas sangatlah erat hubungannya.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak semua orang untuk tidak hanya peduli pada isu lingkungan, tetapi juga melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas, yaitu dari kelompok yang paling rentan. Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan yang lebih baik adalah perjuangan bersama, di mana setiap individu dengan segala keunikan dan keterbatasannya memiliki peran yang sama pentingnya.

Contoh Tabel

Link Podcast Climate Besties: Suara Disabilitas, Harapan Iklim

<b><p style="text-align: center;"><b>Link Podcast Climate Besties: Suara Disabilitas, Harapan Iklim</b></p></b> Kunjungi Sportify Kunjungi Youtube Podcast Bu Indri di Instagram
Podcast Pak Farhan di Instagram Link Tombol Biru TitTok Pak Farhan Link Tombol Biru Tiktok Bu Indri