Kamis, 23 Juli 2026

Kisah Inspiratif: Daden, Dari Cerebral Palsy Menjadi Duta Potensi Pemuda Inspiratif Indonesia

 Aku seorang pria Sunda yang terlahir di Cianjur, Jawa Barat, 18 Februari 1997. Aku hadir ke dunia melalui proses vakum, yang menjadi jembatan pemisahku dari rahim ibu. Karena proses itu, aku lahir tanpa tangisan seperti bayi pada umumnya.

Ribuan sel di otakku rusak akibat proses tersebut. Aku bahkan tidak pernah menikmati ASI ibu. Sekali dipaksakan, aku menangis kencang. Akibatnya, aku divonis mengidap Cerebral Palsy, kelumpuhan otak yang akan melekat seumur hidup.

Cerebral Palsy tergolong disabilitas fisik yang membutuhkan alat bantu kursi roda. Meski demikian, penyandang disabilitas memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang dilindungi oleh undang-undang, seperti UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan diperkuat oleh UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Pasal 10. Kedua undang-undang tersebut menjamin hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu, inklusif, dan khusus.

Sayangnya, Cianjur tidak memiliki sarana pendidikan khusus untuk disabilitas dengan klasifikasi ini. Di Jawa Barat, Bandung menjadi satu-satunya kota yang menyediakan sekolah khusus bagi siswa dengan Cerebral Palsy. Akhirnya, aku dan seorang asisten kemandirian pindah dari Cianjur ke Bandung untuk menuntut ilmu.

Awalnya, aku sempat dicemooh oleh wali murid dari teman-temanku. Mereka berpendapat bahwa orang tuaku membuangku ke kota orang. Hal itu sempat mengusik pikiranku. Namun, para guru berupaya keras membangkitkanku. Mereka mengalihkanku untuk memperdalam kemampuan penggunaan komputer.

Sekolahku memiliki program kerja sama dengan ICT Korea untuk mengadakan pelatihan IT. Di sana, aku mempelajari penggunaan Microsoft Word, Powerpoint, dan Excel. Tujuannya agar aku dapat bersaing di dunia kerja dengan masyarakat di luar kelompok disabilitas.

 

 


Mengembangkan Potensi Diri

Pelatihan tersebut diikuti juga oleh para alumni yang telah lulus dari sekolah. Sebagian di antaranya bahkan telah memiliki usaha di beragam bidang. Suatu ketika, aku mendapat informasi dari mereka tentang sebuah pelatihan wirausaha yang diselenggarakan oleh sebuah bank swasta di Indonesia. Aku yang senang belajar, akhirnya mengikuti pelatihan tersebut.

Selain secara luring (offline), aku juga pernah mengikuti pelatihan secara daring (online) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk mengasah dan memberikan wawasan baru seputar dunia kreatif bagi siswa di provinsi ini. Pelatihan tersebut berfokus pada bidang content creator yang sesuai dengan minatku, yaitu menulis dan berbicara.

Bakat berbicara dan kreativitas itu terasah pada ekstrakurikuler Pramuka. Para guru membimbing serta mendorongku untuk membuat aneka permainan sederhana dan edukatif. Karena itu juga, aku diikutsertakan pada Jambore ABK Nasional hingga berhasil meraih Juara 1 Gladi Tangkas.


Mengasah Kemampuan dan Berani Berkompetisi

IT, wirausaha, dan Pramuka sebenarnya hanya sampingan dari potensiku yang tergali di Bandung. Sebenarnya, aku gemar menuangkan beragam rasa menjadi sebuah puisi. Bagiku, puisi adalah media untuk bersuara tanpa batas dan tidak mengenal keterbatasan fisik. Ia menjadi kumpulan kata yang jujur, merupakan luapan isi hati.

Awalnya, sisi ini ditemukan oleh para guru. Saat itu, mereka melihatku tengah melamun sendiri. Ketika kami di kelas, seorang guru berkata, "Daripada melamun, lebih baik apa yang kamu rasakan dan pikirkan ditulis. Boleh jadi ke depannya kamu bisa membuat buku seperti kakak tingkatmu.”

Aku tahu tidak mudah dan perlu banyak belajar untuk sampai pada titik menerbitkan sebuah buku. Perlombaan adalah metode belajar favoritku sebab sebuah karya dapat diberi nilai langsung oleh masyarakat yang diwakili oleh juri. Keadaan ini menjadi tuntunanku dalam memperindah setiap puisi.

Bertarung dengan selera juri akhirnya, sekolah membimbingku untuk belajar menjadi petarung handal dalam bidang puisi. Tingkat Provinsi Jawa Barat ternyata cukup menegangkan dengan banyaknya saingan. Namun, aku beruntung karena dengan latihan panjang, aku berhasil meraih juara 2.

Menginspirasi Melalui Karya dan Kolaborasi


Jambore dan lomba puisi adalah bekalku untuk bertarung di lomba selanjutnya. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada isu pemberdayaan pemuda dan perdamaian mengadakan lokakarya (workshop) dan kompetisi bertema toleransi serta kerukunan antarumat beragama.

Dari beberapa bidang, aku memilih bidang video karena lebih mudah menghubungkannya dengan kepiawaianku dalam menulis puisi. Awalnya, aku ragu meraih kemenangan karena sainganku bukan dari kalangan disabilitas. Namun ternyata, konsep yang kutawarkan memiliki keunikan dibanding karya lainnya. Aku menampilkan foto tempat ibadah di sekitar gambarku yang sedang membaca puisi, dan itu menjadi keunikan tersendiri. Karena itu, pada kegiatan ini aku dinobatkan sebagai juara favorit.

Pengalaman kompetisi tersebut menjadi modal bagiku untuk bersaing dengan pemuda umum di luar penyandang disabilitas. Persaingan ini, mengedepankan beragam potensi diri anak muda dari seluruh Indonesia yang tercermin dari nama ajangnya, yaitu Duta Potensi Pemuda Indonesia.

Digagas oleh Youth Ranger Indonesia, ajang ini menjadi komunitas baru yang menambah ilmu dan keterampilanku. Cara berkomunikasi adalah modal awal untuk menunjukkan potensi diri. Karena potensiku di bidang kepenulisan, beberapa puisi tentang anak muda yang berkaitan dengan lingkungan disabilitas pun tercipta.

Lewat karyaku, akhirnya gelar Duta Potensi Pemuda Inspiratif Indonesia disematkan padaku. Aku merasa, gelar tersebut adalah peluang untuk menjadikan Indonesia lebih inklusif, meskipun lingkupnya tidak terlalu besar. Misalnya, dengan membuat lokakarya yang membahas tentang dunia disabilitas, khususnya Cerebral Palsy.

Di ajang tersebut, salah satu tugasku menjadi admin Instagram program ini. Membalas komentar, Direct Message (DM), memposting kegiatan sahabat duta, dan memantau bincang-bincang secara langsung sudah menjadi rutinitasku. Semua itu terasa mudah karena aku sudah lama menggunakan gawai untuk berinteraksi di dunia maya.

Gawai adalah caraku melihat dunia dan dunia melihatku dari alat ini. Aku beruntung sebab orang tuaku juga berpikir demikian. Interaksi antarsesama manusia tidak terbatas oleh kekurangan fisik. Bagiku, gawai dan teknologi yang menyertainya seperti pahlawan dengan strateginya di zaman ini. Kemerdekaan berkomunikasi dan menunjukkan potensi diri menjadi kian mudah tercipta.

Seperti halnya YouTube, menjadi ruang mataku dengan dunia saling bertatapan hangat. Banyak ilmu baru yang kudapat dari ruang ini, begitu pula, pengetahuanku yang sedikit dapat kubagikan pada dunia.

Aktivitas di YouTube erat kaitannya dengan proses penyuntingan (editing) video. Tujuannya guna meningkatkan audio dan visual agar pesan dari sebuah konten dapat tersampaikan dengan baik. Secara perlahan, dengan dibantu saudara, video sederhana dengan kualitas mumpuni dapat tercipta.

Isi kontennya, aku teringat pada tips dari seseorang. Saat itu, aku memintanya untuk menerbitkan buku puisi. Beliau menyarankan aku untuk menyelipkan tulisan esai di antara beberapa puisi. Mulai dari sana, aku kian menggemari membuat tulisan esai untuk digabungkan pada puisi dalam buku pertamaku.

Setelah bertahun-tahun lamanya menulis puisi, di pertengahan bangku SMA aku menerbitkan buku kumpulan puisi pertama. Buku ini sebagai rangkuman beberapa puisi yang diselipkan esai sesuai saran dari seseorang. Beliau adalah seorang pegiat literasi yang memahami kegemaran para pencinta buku.

Buku pertama yang kuluncurkan berjudul "RINDU KUNCI MIMPI". Pemilihan judul itu sesuai dengan tema besar dari keseluruhan gabungan puisi dan esai yang menjadi isinya. Selama menimba ilmu di Bandung, tidak bisa dimungkiri ada besarnya rindu pada keluarga, teman, serta suasana kota Cianjur yang khas. Kunci seperti jembatan indah yang menghubungkan kenangan dengan masa depan yang kucita-citakan. Mimpi yang menjelma menjadi impian kurangkai indah dalam buku ini.

Beberapa esai di "Rindu Kunci Mimpi" memicuku untuk menulis karya yang lebih panjang. Rasanya, terlalu banyak momen berharga dalam hidup yang sayang jika tidak dituangkan menjadi sebuah karya. Di masa sekolah dulu, aku gemar menulis di dalam blog, dan pengalaman hidup menjadi isi utamanya.

Saat itu aku tahu, belum banyak sahabat sesama Cerebral Palsy yang mengangkat unik, suka, dan duka mereka menjalani hidup. Hingga aku pun memberanikan diri memperluas tulisan di blog dalam bentuk buku. Diberi judul "REAL STORY CEREBRAL PALSY", buku ini menceritakan seputar dinamika hidupku yang penuh dengan lika-liku manis pahit di dalamnya.

"REAL STORY CEREBRAL PALSY" menjadi wujud karya tanpa batas. Di mana, keterbatasan fisik bukan penghalangku untuk mencerdaskan anak bangsa melalui sebuah buku. Rasa bangga menjadi penyandang Cerebral Palsy pun tercermin dalam buku tersebut, yang berbuah cita-cita luhur agar Indonesia lebih inklusif.

"Lakukanlah apa yang kau cintai," menjadi kutipan yang kuterapkan untuk menjadikan Indonesia lebih inklusif dari lingkup Kabupaten Cianjur. Sebagai pencinta musik Indonesia, aku beruntung sebab grup band lokal dan seorang solois Cianjur datang padaku.

Dengan berbekal kemampuan menulis, kami berkolaborasi. Lirik hasil dariku, sementara nada dan vokal adalah tugas mereka. Band D'Kamp Project membawakan lagu berjudul "Cinta Dari Cerebral Palsy." Dengan judul yang hangat, kuharap pendengar dapat memahami kesetaraan. Bahwa Cerebral Palsy bukanlah penghalang seseorang untuk memberi dan menerima indahnya cinta sesuai dengan kemampuan serta kebutuhannya.

Ipong juga turut bersenandung lewat salah satu puisi yang terdapat dalam buku "Rindu Kunci Mimpi." "Malaikat Yang Kunanti" adalah puisi tentang hangatnya kebaikan seseorang padaku di tengah dinginnya udara Bandung. Dan selanjutnya, menjadi bayangan penantian kebahagiaan hidupku di masa depan.

Selain menulis kedua liriknya, aku pun menjadi tokoh utama pemasaran lagu tersebut di pasar maya. Menyunting video menjadi kemampuan dasar dalam bidang ini. Sebab, aku rasa warganet lebih gemar menonton secara visual dibanding lainnya. Namun demikian, layanan musik digital streaming juga kususupi guna menambah jumlah pendengar kedua senandungnya.

Setelah lagu "Cinta dari Cerebral Palsy" dirilis, aku segera mempromosikannya. Pada masa penobatanku sebagai Duta Potensi Pemuda Inspiratif Indonesia, aku membuat kelas daring untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cerebral palsy. Di akhir kegiatan, aku mengadakan kompetisi mengunggah Instagram story menggunakan lagu tersebut. Akhirnya, strategiku berhasil. Jumlah pendengar dan pengguna lagu pun meningkat.

Banyak pendengar yang tersentuh oleh lagu ini. Liriknya yang mendalam membuat mereka takjub. Mereka tidak menyangka bahwa seseorang dengan cerebral palsy mampu menulis lirik seperti itu. Menurutku, hanya otak yang lumpuh dan menjalar ke sebagian besar fisik, tetapi hati dan separuh akalku berfungsi sepenuhnya.

 

Mengunggah lagu ke platform digital streaming menjadi pengalaman pertama bagi saya. Pada tahap ini, selain berkas lagu, hal lain yang diperlukan adalah artwork atau sampul album. Artwork merupakan representasi visual dari sebuah karya musik.

Sebagai contoh, dalam lagu "Cinta Dari Cerebral Palsy", artwork ini merepresentasikan perasaan cinta yang kuat dari seorang penyandang cerebral palsy kepada semua makhluk hidup. Karya ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk menerima dan memberikan cinta. Selain itu, kehadiran dua orang, yang salah satunya duduk di kursi roda, menjadi penanda bahwa karya ini lahir tanpa batas dan penuh dengan kesetaraan.

Apa pun macam ragamnya, disabilitas bukanlah halangan bagi seorang insan untuk menginspirasi masyarakat dengan torehan prestasi dari karya ciptaannya. Kasih sayang berbuah kesetaraan menjadi pondasi awal berkembangnya kami. Pendidikan dan interaksi sosial yang setara dengan masyarakat umum, menjadi bibit untuk kami melakukan ketiga tahapan tersebut.

Aku menyukai diskusi sebagai sarana menggali wawasan dengan cara santai, hangat, dan akhirnya menciptakan keseruan tersendiri. Terutama ketika ilmu baru kutemukan serta mudah diterapkan menjadi sebuah karya. Intinya, jangan sampai rasa malu menutup ruang interaksi antara disabilitas dengan masyarakat umum.

Karena sejatinya, mereka seperti gunung dan pantai. Jelas, bumi sama untuk diinjak oleh keduanya. Hanya suasana saja yang memberikan sedikit ruang perbedaan.

Ruang Digital


Langkahku berlanjut ke ruang baru—sebuah dimensi yang memang seharusnya kumasuki dalam perjalanan hidupku. Program Digital Talent dari Komdigi RI menjadi wadah bagiku untuk mengasah potensi di bidang digital. Melalui program ini, aku mengikuti beberapa kelas pelatihan penyuntingan video yang membantuku membangun portofolio, khususnya pada fitur deploy yang menjembatani alumni program dengan perusahaan untuk peluang kerja atau magang.

Awalnya, aku mencoba melamar sebagai konten kreator di Komdigi. Tak berselang lama, tim Digital Talent menghubungiku untuk wawancara magang. Selama tiga bulan, aku memproduksi satu hingga dua konten "Day in My Life" setiap pekan sebagai bagian dari sarana promosi program tersebut, dengan tujuan meningkatkan literasi digital masyarakat Indonesia. Sebelumnya, aku juga telah mengikuti sertifikasi BNSP bidang penyuntingan video untuk meningkatkan kapasitas diri dan kepercayaan klien.

Perjalananku berkembang ke bidang kepenulisan melalui program magang daring di Penerbit Pustaka Riyadz. Setiap pekan, aku ditugaskan merancang ide kreatif untuk platform penerbitan tersebut. Di samping itu, aku terus mengasah keterampilan teknis lainnya. Saya mengikuti program Coding for Disability untuk mempelajari pengembangan situs web. Kini, aku mulai akrab dengan bahasa pemrograman seperti HTML, CSS, dan JavaScript. Bagiku, keterampilan ini adalah galeri seni untuk memamerkan karya tulisan maupun musikku, sejalan dengan semangat berkarya tanpa batas yang selalu kupegang sejak didiagnosis Cerebral Palsy.

 

Menembus Batas Ruang: Berkarya dan Beradaptasi di Era Digital


Hampir sembilan puluh persen aktivitasku dalam berkarya erat kaitannya dengan teknologi informasi, mulai dari tahap produksi hingga promosinya. Seperti petualangan ke alam liar yang memerlukan penunjuk arah, aku juga harus mengikuti perkembangan teknologi informasi. Sudah beberapa tahun ini, dunia semakin disederhanakan ilmu pengetahuannya oleh Kecerdasan Buatan (AI).

Kekuatan AI terletak pada data-data yang telah tersedia di internet, yang kemudian diolah dan disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Karena teknologi ini tergolong baru bagiku, aku tentu memerlukan panduan khusus untuk memanfaatkannya. Dari seorang kawan, aku mendapatkan informasi mengenai program pelatihan EQUAL yang diselenggarakan oleh Microsoft. Pelatihan ini mengajarkan para peserta untuk berkreasi membuat gambar menggunakan fitur AI bernama Copilot. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman agar bijak dalam menggunakan AI tanpa melanggar hak cipta.

Bagiku, kehadiran AI memberikan dampak positif yang luar biasa, khususnya bagi kawan-kawan disabilitas yang mempunyai banyak ide kreatif namun memiliki keterbatasan dalam mewujudkannya. Sebagai contoh dalam bidang pemrograman (coding), ide pembuatan website sederhana sebenarnya sudah ada di kepala, tetapi proses eksekusinya terkadang membingungkan. Di sinilah peran AI menjadi sangat penting dengan memasukkan prompt atau perintah yang sesuai dengan tampilan yang diinginkan pada website tersebut.

 

Menembus Batas Ruang: Berkarya dan Beradaptasi di Era Digital


AI dan coding tidak membuatku melupakan jati diriku sebagai seorang penulis puisi. Saat itu, di grup Facebook, aku melihat pengumuman ajakan menulis buku antologi dalam rangka hari jadi sebuah komunitas sastra. Tema buku tersebut kurang lebih mengenai keadaan Indonesia yang hari ini memang sedang tidak baik-baik saja.

Aku memang tidak punya pengaruh besar di negeri ini. Hanya saja, kendala-kendala yang aku dan kawan-kawan disabilitas alami semoga dapat menggugah para pemangku kepentingan. Pergerakanku kini menjadi investasi untuk mengejar Indonesia agar menjadi lebih inklusif bagi semua, khususnya para penyandang disabilitas yang beragam.

Entah setelah melihatku yang belajar menjadi konten kreator atau karena motivasi lainnya, beberapa kawan disabilitas mengikuti langkahku sebagai kreator di YouTube. Namun, menurutku, persaingan telah sangat ketat, ditambah kami yang belum banyak dikenal oleh masyarakat luas.

Masalah tersebut memunculkan ide baru dalam pikiranku. Gotong royong adalah identitas bangsa sejak dulu. Itulah yang seharusnya diterapkan agar kreator perintis dapat setara dengan publik figur yang berkecimbung dalam bidang ini. Caranya adalah pihak-pihak yang diikuti oleh banyak orang diwajibkan untuk mempromosikan konten kami.


MAU DOMAIN MURAH & HOSTING BERKUALITAS?
YUK KLIK TOMBOL DIBAWAH


5 Kotak Backlink Estetik

IDwebhost

Klik di sini!

domain murah

Klik di sini!

hosting murah

Klik di sini!

domain .id

Klik di sini!

Kamis, 25 September 2025

Arga Menulis dan Mengadvokasi Lingkungan


Gambar : Kegiatan Jumat Bersih Siswa Difabel

Sebagai penulis dari Cianjur yang hidup dengan Cerebral Palsy dan menggunakan kursi roda, saya mendapatkan banyak pengalaman dari pendidikan di SLB-D YPAC Bandung. Di sana, saya tidak hanya belajar pelajaran umum, tetapi juga diasah untuk menjadi pribadi yang mandiri. Salah satu program yang paling berkesan adalah Program Jumat Bersih yang rutin diadakan.

Program ini sederhana, tetapi maknanya mendalam. Seluruh siswa dilibatkan, termasuk yang memiliki keterbatasan fisik seperti saya. Guru-guru membagi tugas sesuai kemampuan setiap siswa. Contohnya, teman-teman yang bisa menyapu akan menyapu, sementara saya yang menggunakan kursi roda bisa membantu dengan cara lain, seperti mengelola atau mengarahkan teman-teman. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk berkontribusi. Justru, hal itu menuntut kreativitas agar setiap orang dapat berpartisipasi dengan cara yang berbeda.

Pendidikan di SLB-D YPAC tidak hanya membentuk saya sebagai individu, tetapi juga membuka wawasan tentang isu-isu yang lebih besar. Saya menyadari bahwa dampak perubahan iklim, seperti banjir, sangat memengaruhi mobilitas saya sebagai pengguna kursi roda. Banjir bukan hanya genangan air biasa, tetapi juga rintangan besar yang membuat saya kesulitan beraktivitas dan membahayakan keselamatan.

Pengalaman pribadi ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab semua orang, baik disabilitas maupun non-disabilitas. Inilah yang mendorong saya untuk bergabung dengan Pergerakan Disabilitas dan Lansia (DILANS).

DILANS Keadilan Iklim untuk Semua

Para ilmuwan se-dunia yang tergabung dalam International Panel on Climate Change (IPCC) telah mengkonfirmasi bahwa perubahan iklim adalah realitas peradaban yang tak terhindarkan. Kita akan mampu beradaptasi andaikan suhu permukaan bumi dipertahankan pada suhu rerata 1.5 derajat Velcius di akhir abad ini. Karena itulah pada tahun 2015 lahir Kesepakatan Paris untuk memenuhinya. Saat ini pencapaiannya masih jauh dari harapan.

Apa dampaknya? Akumulasi gas rumah kaca di atmosfir tak terhindarkan yang akan berakibat pada naiknya permukaan air laut, intensitas curah hujan, meningkatnya suhu perkotaan dan berbagai bencana hidrometeorologis yang menyertainya serta berbagai penyakit yang muncul karena perubahan iklim.

Penyandang disabilitas daya tahan (resiliensi) nya lebih rendah dari kelompok non-disabilitas. Hambatan mobilitas akan diperparah dengan iklim yang berubah. Dehidrasi diantara yang saya rasakan ketika suhu perkotaan meningkat.

DILANS didirikan oleh aktivis lingkungan yang juga seorang difabel, yang menyadari bahwa krisis iklim memiliki dampak yang lebih berat bagi penyandang disabilitas. DILANS percaya bahwa kemajuan harus diukur dari kelompok yang paling tertinggal, sesuai dengan prinsip "no one left behind" dan "nothing about us, without us". Artinya, setiap kebijakan, terutama terkait lingkungan, harus melibatkan penyandang disabilitas.

Visi DILANS selaras dengan pengalaman saya di SLB-D YPAC Bandung. Di sekolah, Program Jumat Bersih melibatkan semua siswa agar merasa memiliki dan bertanggung jawab. DILANS melakukan hal serupa di tingkat yang lebih besar, yaitu dengan mendorong perubahan kebijakan agar para difabel memiliki representasi di parlemen dan komite di dewan komisaris korporasi.

Visi dan misi DILANS Indonesia adalah untuk mewujudkan dunia yang inklusif dengan memobilisasi aktor baik pemrintah maupun non-pemerintah. Dorlongan percepatan inilah yang saat ini digulirkan dan diadvokasi tidak terbatas pada aktor domestik, juga internasional. 

Organisasi ini mengadvokasi agar kebijakan pembangunan tidak hanya ditangani oleh satu kementerian, melainkan juga melibatkan kementerian lain seperti kesehatan. Mereka menyuarakan bahwa perubahan iklim tidak hanya soal kenaikan suhu atau cuaca ekstrem, tetapi juga menyangkut berbagai hambatan aksesibilitasnya termasuk hambatan infrastruktur yang sehari-hari dihadapi oleh penyandang disabilitas, seperti jalanan yang tidak ramah kursi roda.


Gambar : Agenda rutin DILANS (Disabilitas Dan Lansia)

Representasi Warga Disabilitas

Walaupun urusan disabilitas sudah meiliki fondasi normatif Konvensi PBB (UNCRPD) yang telah diturunkan oleh negara melalui UU 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas dan berbagai peraturan yang lebih teknis di berbagai tingkat oemerintahan baik pusat maupun daerah, pelaksanaannya masih harus terus diperjuangkan.

Farhan mengusulkan dua hal: pertama, UU Pemilu yang akan datang (2029-2034) harus memberikan afirmasi untuk penyandang disabilitas. Tidak dipertrungkan dengan non-disabilitas.

Kedua, penyandang disabilitas duduk dalam Komite Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (ESG), misalnya sebagai Komisaris di Perusahaan baik pemerintah maupun non-pemerintah. Lebih dari 1000 BUMN/BUMD yang bisa melakukannya. Gagasan ini bukan sesuatu yang mustahil. Banyak perusahaan global yang sudah mempraktekannya.

Dengan dua posisi penting ini kita bisa berharap bahwa kehidupan tanpa diskriminasi bisa diwujudkan.

Kolaborasi sebagai Kunci

Pesan dari DILANS dan SLB-D YPAC Bandung sangatlah jelas: kolaborasi dan inklusi adalah kunci. Guru-guru di sekolah saya menyesuaikan tugas agar setiap siswa, terlepas dari keterbatasannya, dapat berpartisipasi. Demikian pula, DILANS berjuang agar penyandang disabilitas tidak lagi dianggap sebagai objek belas kasihan, tetapi sebagai subjek yang memiliki hak dan peran dalam setiap keputusan.

Sebagai seorang penulis, saya percaya bahwa cerita pribadi dapat menjadi alat yang kuat untuk mengadvokasi perubahan. Dengan membagikan pengalaman saya, dari Program Jumat Bersih di sekolah hingga tantangan menghadapi banjir, saya berharap dapat menunjukkan bahwa isu lingkungan dan disabilitas sangatlah erat hubungannya.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak semua orang untuk tidak hanya peduli pada isu lingkungan, tetapi juga melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas, yaitu dari kelompok yang paling rentan. Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan yang lebih baik adalah perjuangan bersama, di mana setiap individu dengan segala keunikan dan keterbatasannya memiliki peran yang sama pentingnya.

Contoh Tabel

Link Podcast Climate Besties: Suara Disabilitas, Harapan Iklim

<b><p style="text-align: center;"><b>Link Podcast Climate Besties: Suara Disabilitas, Harapan Iklim</b></p></b> Kunjungi Sportify Kunjungi Youtube Podcast Bu Indri di Instagram
Podcast Pak Farhan di Instagram Link Tombol Biru TitTok Pak Farhan Link Tombol Biru Tiktok Bu Indri

Sabtu, 12 Juli 2025

Gaya Hidup Anak Muda Masa Kini: Kost yang Bisa Jadi Rumah Kedua


 Hai, aku Arga, biasa dipanggil Daden. Aku lahir dan besar di Cianjur, kota penghubung Bandung dengan Jakarta sejak dulu. Disabilitas adalah bagian dari diriku, lebih tepatnya Cerebral Palsy atau kelumpuhan otak. Pendidikan bukan hanya hak non-disabilitas; kami pun berhak mendapatkannya. Sayangnya, Cianjur tidak memiliki sekolah khusus bagiku. Alhasil, aku harus tinggal jauh dari orang tua di Bandung, yang menjadi tujuan wisata warga Jakarta.

SLB-D YPAC Bandung adalah sekolah yang mendukung keadaanku. Jalanannya rata tanpa tangga, meski banyak jalan menurun. Selama menimba ilmu, bersama seorang asisten kemandirian, aku menyewa rumah kost. Akses di kost pun ramah bagi kursi roda. Terdapat jalan menurun di samping tangga menuju ke dalam rumah, juga toilet duduk di dalam kamar.

Saat itu, rumah yang kusewa harus dekat dengan sekolah. Tujuannya, agar asistenku dapat berjalan sambil mendorong kursi roda untuk mengantarku ke sana. Rumah kost yang kupilih berada di daerah perkampungan. Uniknya, sebagian penduduk setempat juga berasal dari Cianjur. Hal ini membuat interaksi terasa hangat, berisi obrolan ringan tentang kampung halaman yang sama.

Akses jalan dari sekolahku ke rumah kost adalah beton, sehingga mendukung perjalananku pulang-pergi ke sekolah memakai kursi roda. Selain itu, karena berada di perkampungan, peran siskamling masih berlaku. Sejak awal hingga sekolah berakhir, barang-barangku aman tanpa ada pencurian.

Dukungan terbesar datang saat aku menempuh ilmu di Bandung, mulai dari mencarikan rumah kost hingga dukungan moral dan finansial. Semua itu karena mereka tidak ingin disabilitas yang kuidap membendung masa depanku.

Selain membereskan rumah kost, asistenku, seorang pria muda, kerap memasak makanan bagi kami berdua. Misalnya, setiap pagi ia membuatkanku nasi goreng putih dengan cabai rawit dan secangkir kopi agar hariku segar. Jika akan pulang dari Cianjur ke Bandung, ibu membekaliku beras dan lauk pauk lainnya.

Tetangga kostku adalah keluarga muda dengan dua orang anak. Kami pun kerap berdiskusi tentang banyak hal, baik cerita keadaanku di sekolah maupun di tempat kerjanya. Begitu pula dengan ibu kost, pemilik rumah tersebut; kami sering berdiskusi tentang banyak hal. Menurutku, selain pengetahuan baru, ilmu juga datang dari peristiwa itu.

Di rumah kost, airnya mengalir kecil, berbau, dan kurang jernih. Untuk mengatasinya, orang tuaku memasang pompa serta alat penjernih air berbentuk tabung. Alat ini berisi beberapa lapis batu juga pasir untuk mengubah air menjadi bening.


Hidup bukan tentang duka atau kesulitan saja; mereka selalu datang bersama suka dan kemudahan. Tanpa ikatan darah tidak selalu membuat manusia lain bagiku. Selain ruang menimba ilmu bagi kaum disabilitas, SLB hadir untuk mahasiswa calon gurunya. Aku merasa siswa paling beruntung di sana karena salah satu mahasiswi, katakanlah "Mojang Bandung," mendatangi rumah indekosku untuk makan bersama. Ada coklat, es krim, mi goreng, dan telur menemani kami tertawa menghempaskan lelah.

Memang, masakan ibu di rumah Cianjur tak tertandingi lezatnya. Namun, paling tidak, bersama asistenku, kami mencoba masak enak, walau yang sedikit mirip dengan masakan rumah hanya nasi putih saja.

Kenyamananku adalah menghirup segarnya angin Bandung, karenanya, AC tidak berguna di rumah keduaku ini. Untuk Wi-Fi, kami membawa sendiri dari Cianjur.

SLB-D YPAC Bandung terletak di Jl. Mustang No. 46. Sementara itu, letak rumah indekosku di dalam gang, tepat di depan pintu gerbang sekolah. Jika kami bepergian tanpa orang tuaku, biasanya kami memesan taksi online lewat aplikasi, dan sekolah menjadi titik penjemputannya.

Bisa dibilang, dengan akses yang memadai dan kenyamanannya, harga sewa rumah indekos ini murah. Hanya Rp500.000 per bulan, aku bisa tinggal dengan nyaman di ibu kota Tatar Sunda ini.

Jika kalian ingin mengikuti jejakku, kalian juga bisa memilih Rumah Kost Dangdeur by D'Paragon. Jarak dari sekolahku hanya 2,5 km, yang bisa ditempuh dalam waktu 6 menit saja. Rumah kost ini sudah dilengkapi dengan jaringan Wi-Fi. Fasilitas ini tentu sangat membantu pelajar disabilitas untuk mengerjakan tugas juga bersilaturahmi melalui media sosial dengan keluarganya.


Selain Wi-Fi, Kost Dangdeur by D'Paragon juga dilengkapi dengan fasilitas laundry. Fasilitas ini tentunya dapat mengurangi beban kerja asisten dari seorang siswa disabilitas. Selain itu, mobil pun dapat diparkirkan dekat unitnya. Jadi, ketika sampai di rumah indekost dengan kondisi hujan dan di malam hari, tidak perlu berjalan jauh.

Ada juga Djuragan Kamar yang terletak di Jl. Profesor Eyckman No. 28 Bandung. Walau jaraknya 4 km dari SLB-D YPAC Bandung, dengan fasilitas yang memadai, rumah indekost ini juga patut untuk dipertimbangkan.




Berikut tips memilih rumah kost untuk penyandang disabilitas pengguna kursi roda:

a. Pastikan jarak antara akses kendaraan menuju ke rumah kost mudah, jalanannya rata, dan tidak terlalu jauh.

b. Pastikan ada toilet di dalam kamar dengan water closet atau kloset duduk.

c. Pastikan aksesnya dekat dengan sekolah atau pusat kegiatan lain yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Tren kos eksklusif seperti D'Paragon menjadi pilihan terbaik di era digital karena menawarkan fasilitas yang sangat mendukung kebutuhan kaum milenial dan penyandang disabilitas di tengah kemudahan teknologi. Dengan adanya Wi-Fi, penghuni dapat dengan mudah mengakses informasi, mengerjakan tugas, dan bersosialisasi secara daring, yang sangat krusial di era digital ini. 2Layanan seperti laundry juga menambah kenyamanan dan efisiensi waktu, memungkinkan penghuni untuk fokus pada kegiatan utama mereka, baik itu belajar atau bekerja. Kemudahan aksesibilitas, seperti yang dijelaskan oleh Arga, dengan jalan yang rata dan fasilitas ramah kursi roda, menjadikan kos eksklusif ini pilihan ideal bagi penyandang disabilitas yang mengandalkan teknologi untuk mobilitas dan konektivitas. Selain itu, keberadaan aplikasi taksi online dan titik penjemputan yang strategis di dekat fasilitas pendidikan semakin menguatkan posisi kos eksklusif sebagai solusi hunian yang terintegrasi dengan gaya hidup digital.


Dari sudut pandang saya sebagai penyewa kost dengan disabilitas, perbedaan utama antara kost biasa dan kost eksklusif sangatlah signifikan, terutama dalam hal kenyamanan, fasilitas, dan kemandirian.


Kost biasa, seperti yang saya sewa, memang menawarkan harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp500.000 per bulan, dan bisa memberikan rasa kekeluargaan yang hangat karena lokasinya di perkampungan dengan tetangga yang ramah. Akses jalan yang saya miliki juga ramah kursi roda, dengan jalanan beton dan jalan menurun di samping tangga. Namun, ada beberapa keterbatasan yang saya alami, seperti kualitas air yang kurang baik sehingga orang tua saya harus memasang pompa dan alat penjernih air. Selain itu, untuk Wi-Fi, kami harus membawa sendiri dari Cianjur. Meskipun demikian, dukungan moral dan finansial dari keluarga serta peran siskamling di lingkungan kost memberikan rasa aman dan nyaman.


Sementara itu, kost eksklusif seperti Rumah Kost Dangdeur by D'Paragon menawarkan fasilitas yang jauh lebih lengkap dan modern, yang sangat mendukung kemandirian. Misalnya, sudah dilengkapi dengan jaringan Wi-Fi, yang sangat membantu dalam mengerjakan tugas dan bersilaturahmi. Adanya fasilitas laundry juga sangat meringankan beban asisten saya, memungkinkan dia untuk fokus pada hal-hal lain yang lebih penting. Kemudahan parkir mobil dekat unit juga menjadi nilai tambah.  Meskipun saya tidak tinggal di sana, melihat fasilitasnya, kost eksklusif tampaknya dirancang untuk memberikan pengalaman tinggal yang lebih praktis dan bebas repot, dengan segala kebutuhan dasar sudah terpenuhi. Tentunya, ini akan sangat membantu penyandang disabilitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari tanpa banyak hambatan.


Jangan biarkan disabilitas membatasi langkah Anda! Rasakan kenyamanan dan kemandirian sejati seperti yang saya alami. Pertimbangkan D'Paragon untuk kebutuhan hunian Anda dan wujudkan masa depan tanpa batas!

Yuk kunjungi Instagram dengan klik link D'Paragon & Djuragan Kamar

Kunjungi situs resmi D'Paragon di Homepage D'Paragon & Djuragan Kamar ntuk mendapatkan penawaran menarik dan informasi terbaru!

Mudahkan pencarian kost idaman Anda dengan mengunduh aplikasi D'Paragon Djuragan Kamar! Tersedia di Google Play Store dan App Store. Cari, pilih, dan sewa kost impian Anda hanya dalam genggaman!





Rabu, 09 Juli 2025

Climate Besties: Suara Disabilitas, Harapan Iklim

 Halo! Saya Arga, seorang pemuda dari Cianjur yang berprofesi sebagai penulis. Hidup dengan Cerebral Palsy sejak lahir tentu membawa tantangan tersendiri, salah satunya dalam hal pendidikan. Selama hampir 30 tahun di Cianjur, tidak ada sekolah khusus untuk kondisi seperti saya. Beruntung, saya berkesempatan menimba ilmu di SLB-D YPAC Bandung, dan di sanalah saya mengasah kemampuan menulis, dari buku hingga lirik lagu.

Kerusakan lingkungan sering kali berujung pada bencana, dan banjir adalah salah satunya. Bagi pengguna kursi roda seperti saya, banjir sangat menghambat mobilitas sehari-hari. Bayangkan saja, genangan air di trotoar membuat banyak lubang, dan semakin banyak lubang, semakin sulit kursi roda saya bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Menjaga kebersihan lingkungan adalah kunci untuk mengatasi bencana seperti ini. Tanggung jawab ini tidak luntur karena disabilitas atau tidak, sebab bumi merawat kita semua, baik penyandang disabilitas maupun non-disabilitas, dengan setara. Keterlibatan penyandang disabilitas dalam upaya ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membawa tempat makan dan minum sendiri, membuang sampah pada tempatnya, dan turut serta membersihkan lingkungan sesuai kemampuan.

Saya teringat masa di SLB-D YPAC Bandung. Setelah senam pagi, kami rutin mengadakan kegiatan Jumat Bersih (Jumsih). Aktivitas ini meliputi memungut sampah di halaman sekolah hingga ruang kelas. Tentunya, siswa disabilitas dibimbing oleh guru, wali murid, dan kadang juga mahasiswa calon guru yang sedang praktik mengajar.


Gambar : Kegiatan Jumat Bersih di 
SLB-D YPAC BANDUNG

Konsep Kampanye Online: "Kursi Roda Ramah Iklim: Bergerak Bersama untuk Bumi"
Sebagai seorang penyandang Cerebral Palsy dan pengguna kursi roda, saya akan memimpin kampanye online bernama :
"Kursi Roda Ramah Iklim: Bergerak Bersama untuk Bumi". Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak perubahan iklim terhadap penyandang disabilitas, sekaligus mendorong partisipasi aktif dari komunitas disabilitas dalam upaya mitigasi dan adaptasi iklim.
Melalui platform media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube Shot dan blog pribadi, saya akan membagikan konten edukatif dan inspiratif. Konten akan meliputi:

    1. "POV Disabilitas & Iklim": Video pendek atau   infografis yang menggambarkan tantangan nyata yang dihadapi penyandang disabilitas akibat dampak perubahan iklim (misalnya, kesulitan mobilitas saat banjir, akses air bersih yang terbatas).
2. "Aksi Kecilku, Dampak Besar": Mengajak para penyandang disabilitas dan non-disabilitas untuk berbagi aksi ramah lingkungan sederhana yang mereka lakukan sehari-hari (contoh: membawa botol minum sendiri, memilah sampah, menggunakan transportasi publik). Saya akan memulai dengan mendokumentasikan kegiatan "Jumat Bersih" yang saya ikuti di SLB-D YPAC Bandung sebagai inspirasi.

3. "Suara Inklusif untuk Iklim": Mengadakan sesi live atau diskusi online dengan narasumber dari komunitas disabilitas dan pegiat lingkungan untuk membahas solusi adaptasi yang inklusif.

Melalui tagar #KursiRodaRamahIklim dan #DisabilitasUntukIklim, kampanye ini akan menggalang partisipasi, menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah tanggung jawab kita semua, tanpa memandang kondisi fisik. Tujuannya adalah menciptakan ruang diskusi yang aman dan inspiratif, membuktikan bahwa kita, dengan segala keterbatasan, juga bisa menjadi agen perubahan bagi bumi.

Senin, 16 Desember 2024

"Sertifikat dan Testimoni: Bedah Buku 'Real Story Cerebral Palsy'"

 

Acara Bedah Buku 'Real Story Cerebral Palsy' telah sukses digelar! Bagi Anda yang telah berpartisipasi, link download sertifikat telah tersedia. Selain itu, kami juga telah merangkum berbagai komentar dan kesan menarik dari para peserta. Yuk, simak kisah inspiratif mereka dan download sertifikat Anda sekarang!

Kata Nettizen