Kamis, 23 Juli 2026

Kisah Inspiratif: Daden, Dari Cerebral Palsy Menjadi Duta Potensi Pemuda Inspiratif Indonesia

 Aku seorang pria Sunda yang terlahir di Cianjur, Jawa Barat, 18 Februari 1997. Aku hadir ke dunia melalui proses vakum, yang menjadi jembatan pemisahku dari rahim ibu. Karena proses itu, aku lahir tanpa tangisan seperti bayi pada umumnya.

Ribuan sel di otakku rusak akibat proses tersebut. Aku bahkan tidak pernah menikmati ASI ibu. Sekali dipaksakan, aku menangis kencang. Akibatnya, aku divonis mengidap Cerebral Palsy, kelumpuhan otak yang akan melekat seumur hidup.

Cerebral Palsy tergolong disabilitas fisik yang membutuhkan alat bantu kursi roda. Meski demikian, penyandang disabilitas memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang dilindungi oleh undang-undang, seperti UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan diperkuat oleh UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Pasal 10. Kedua undang-undang tersebut menjamin hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu, inklusif, dan khusus.

Sayangnya, Cianjur tidak memiliki sarana pendidikan khusus untuk disabilitas dengan klasifikasi ini. Di Jawa Barat, Bandung menjadi satu-satunya kota yang menyediakan sekolah khusus bagi siswa dengan Cerebral Palsy. Akhirnya, aku dan seorang asisten kemandirian pindah dari Cianjur ke Bandung untuk menuntut ilmu.

Awalnya, aku sempat dicemooh oleh wali murid dari teman-temanku. Mereka berpendapat bahwa orang tuaku membuangku ke kota orang. Hal itu sempat mengusik pikiranku. Namun, para guru berupaya keras membangkitkanku. Mereka mengalihkanku untuk memperdalam kemampuan penggunaan komputer.

Sekolahku memiliki program kerja sama dengan ICT Korea untuk mengadakan pelatihan IT. Di sana, aku mempelajari penggunaan Microsoft Word, Powerpoint, dan Excel. Tujuannya agar aku dapat bersaing di dunia kerja dengan masyarakat di luar kelompok disabilitas.

 

 


Mengembangkan Potensi Diri

Pelatihan tersebut diikuti juga oleh para alumni yang telah lulus dari sekolah. Sebagian di antaranya bahkan telah memiliki usaha di beragam bidang. Suatu ketika, aku mendapat informasi dari mereka tentang sebuah pelatihan wirausaha yang diselenggarakan oleh sebuah bank swasta di Indonesia. Aku yang senang belajar, akhirnya mengikuti pelatihan tersebut.

Selain secara luring (offline), aku juga pernah mengikuti pelatihan secara daring (online) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk mengasah dan memberikan wawasan baru seputar dunia kreatif bagi siswa di provinsi ini. Pelatihan tersebut berfokus pada bidang content creator yang sesuai dengan minatku, yaitu menulis dan berbicara.

Bakat berbicara dan kreativitas itu terasah pada ekstrakurikuler Pramuka. Para guru membimbing serta mendorongku untuk membuat aneka permainan sederhana dan edukatif. Karena itu juga, aku diikutsertakan pada Jambore ABK Nasional hingga berhasil meraih Juara 1 Gladi Tangkas.


Mengasah Kemampuan dan Berani Berkompetisi

IT, wirausaha, dan Pramuka sebenarnya hanya sampingan dari potensiku yang tergali di Bandung. Sebenarnya, aku gemar menuangkan beragam rasa menjadi sebuah puisi. Bagiku, puisi adalah media untuk bersuara tanpa batas dan tidak mengenal keterbatasan fisik. Ia menjadi kumpulan kata yang jujur, merupakan luapan isi hati.

Awalnya, sisi ini ditemukan oleh para guru. Saat itu, mereka melihatku tengah melamun sendiri. Ketika kami di kelas, seorang guru berkata, "Daripada melamun, lebih baik apa yang kamu rasakan dan pikirkan ditulis. Boleh jadi ke depannya kamu bisa membuat buku seperti kakak tingkatmu.”

Aku tahu tidak mudah dan perlu banyak belajar untuk sampai pada titik menerbitkan sebuah buku. Perlombaan adalah metode belajar favoritku sebab sebuah karya dapat diberi nilai langsung oleh masyarakat yang diwakili oleh juri. Keadaan ini menjadi tuntunanku dalam memperindah setiap puisi.

Bertarung dengan selera juri akhirnya, sekolah membimbingku untuk belajar menjadi petarung handal dalam bidang puisi. Tingkat Provinsi Jawa Barat ternyata cukup menegangkan dengan banyaknya saingan. Namun, aku beruntung karena dengan latihan panjang, aku berhasil meraih juara 2.

Menginspirasi Melalui Karya dan Kolaborasi


Jambore dan lomba puisi adalah bekalku untuk bertarung di lomba selanjutnya. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada isu pemberdayaan pemuda dan perdamaian mengadakan lokakarya (workshop) dan kompetisi bertema toleransi serta kerukunan antarumat beragama.

Dari beberapa bidang, aku memilih bidang video karena lebih mudah menghubungkannya dengan kepiawaianku dalam menulis puisi. Awalnya, aku ragu meraih kemenangan karena sainganku bukan dari kalangan disabilitas. Namun ternyata, konsep yang kutawarkan memiliki keunikan dibanding karya lainnya. Aku menampilkan foto tempat ibadah di sekitar gambarku yang sedang membaca puisi, dan itu menjadi keunikan tersendiri. Karena itu, pada kegiatan ini aku dinobatkan sebagai juara favorit.

Pengalaman kompetisi tersebut menjadi modal bagiku untuk bersaing dengan pemuda umum di luar penyandang disabilitas. Persaingan ini, mengedepankan beragam potensi diri anak muda dari seluruh Indonesia yang tercermin dari nama ajangnya, yaitu Duta Potensi Pemuda Indonesia.

Digagas oleh Youth Ranger Indonesia, ajang ini menjadi komunitas baru yang menambah ilmu dan keterampilanku. Cara berkomunikasi adalah modal awal untuk menunjukkan potensi diri. Karena potensiku di bidang kepenulisan, beberapa puisi tentang anak muda yang berkaitan dengan lingkungan disabilitas pun tercipta.

Lewat karyaku, akhirnya gelar Duta Potensi Pemuda Inspiratif Indonesia disematkan padaku. Aku merasa, gelar tersebut adalah peluang untuk menjadikan Indonesia lebih inklusif, meskipun lingkupnya tidak terlalu besar. Misalnya, dengan membuat lokakarya yang membahas tentang dunia disabilitas, khususnya Cerebral Palsy.

Di ajang tersebut, salah satu tugasku menjadi admin Instagram program ini. Membalas komentar, Direct Message (DM), memposting kegiatan sahabat duta, dan memantau bincang-bincang secara langsung sudah menjadi rutinitasku. Semua itu terasa mudah karena aku sudah lama menggunakan gawai untuk berinteraksi di dunia maya.

Gawai adalah caraku melihat dunia dan dunia melihatku dari alat ini. Aku beruntung sebab orang tuaku juga berpikir demikian. Interaksi antarsesama manusia tidak terbatas oleh kekurangan fisik. Bagiku, gawai dan teknologi yang menyertainya seperti pahlawan dengan strateginya di zaman ini. Kemerdekaan berkomunikasi dan menunjukkan potensi diri menjadi kian mudah tercipta.

Seperti halnya YouTube, menjadi ruang mataku dengan dunia saling bertatapan hangat. Banyak ilmu baru yang kudapat dari ruang ini, begitu pula, pengetahuanku yang sedikit dapat kubagikan pada dunia.

Aktivitas di YouTube erat kaitannya dengan proses penyuntingan (editing) video. Tujuannya guna meningkatkan audio dan visual agar pesan dari sebuah konten dapat tersampaikan dengan baik. Secara perlahan, dengan dibantu saudara, video sederhana dengan kualitas mumpuni dapat tercipta.

Isi kontennya, aku teringat pada tips dari seseorang. Saat itu, aku memintanya untuk menerbitkan buku puisi. Beliau menyarankan aku untuk menyelipkan tulisan esai di antara beberapa puisi. Mulai dari sana, aku kian menggemari membuat tulisan esai untuk digabungkan pada puisi dalam buku pertamaku.

Setelah bertahun-tahun lamanya menulis puisi, di pertengahan bangku SMA aku menerbitkan buku kumpulan puisi pertama. Buku ini sebagai rangkuman beberapa puisi yang diselipkan esai sesuai saran dari seseorang. Beliau adalah seorang pegiat literasi yang memahami kegemaran para pencinta buku.

Buku pertama yang kuluncurkan berjudul "RINDU KUNCI MIMPI". Pemilihan judul itu sesuai dengan tema besar dari keseluruhan gabungan puisi dan esai yang menjadi isinya. Selama menimba ilmu di Bandung, tidak bisa dimungkiri ada besarnya rindu pada keluarga, teman, serta suasana kota Cianjur yang khas. Kunci seperti jembatan indah yang menghubungkan kenangan dengan masa depan yang kucita-citakan. Mimpi yang menjelma menjadi impian kurangkai indah dalam buku ini.

Beberapa esai di "Rindu Kunci Mimpi" memicuku untuk menulis karya yang lebih panjang. Rasanya, terlalu banyak momen berharga dalam hidup yang sayang jika tidak dituangkan menjadi sebuah karya. Di masa sekolah dulu, aku gemar menulis di dalam blog, dan pengalaman hidup menjadi isi utamanya.

Saat itu aku tahu, belum banyak sahabat sesama Cerebral Palsy yang mengangkat unik, suka, dan duka mereka menjalani hidup. Hingga aku pun memberanikan diri memperluas tulisan di blog dalam bentuk buku. Diberi judul "REAL STORY CEREBRAL PALSY", buku ini menceritakan seputar dinamika hidupku yang penuh dengan lika-liku manis pahit di dalamnya.

"REAL STORY CEREBRAL PALSY" menjadi wujud karya tanpa batas. Di mana, keterbatasan fisik bukan penghalangku untuk mencerdaskan anak bangsa melalui sebuah buku. Rasa bangga menjadi penyandang Cerebral Palsy pun tercermin dalam buku tersebut, yang berbuah cita-cita luhur agar Indonesia lebih inklusif.

"Lakukanlah apa yang kau cintai," menjadi kutipan yang kuterapkan untuk menjadikan Indonesia lebih inklusif dari lingkup Kabupaten Cianjur. Sebagai pencinta musik Indonesia, aku beruntung sebab grup band lokal dan seorang solois Cianjur datang padaku.

Dengan berbekal kemampuan menulis, kami berkolaborasi. Lirik hasil dariku, sementara nada dan vokal adalah tugas mereka. Band D'Kamp Project membawakan lagu berjudul "Cinta Dari Cerebral Palsy." Dengan judul yang hangat, kuharap pendengar dapat memahami kesetaraan. Bahwa Cerebral Palsy bukanlah penghalang seseorang untuk memberi dan menerima indahnya cinta sesuai dengan kemampuan serta kebutuhannya.

Ipong juga turut bersenandung lewat salah satu puisi yang terdapat dalam buku "Rindu Kunci Mimpi." "Malaikat Yang Kunanti" adalah puisi tentang hangatnya kebaikan seseorang padaku di tengah dinginnya udara Bandung. Dan selanjutnya, menjadi bayangan penantian kebahagiaan hidupku di masa depan.

Selain menulis kedua liriknya, aku pun menjadi tokoh utama pemasaran lagu tersebut di pasar maya. Menyunting video menjadi kemampuan dasar dalam bidang ini. Sebab, aku rasa warganet lebih gemar menonton secara visual dibanding lainnya. Namun demikian, layanan musik digital streaming juga kususupi guna menambah jumlah pendengar kedua senandungnya.

Setelah lagu "Cinta dari Cerebral Palsy" dirilis, aku segera mempromosikannya. Pada masa penobatanku sebagai Duta Potensi Pemuda Inspiratif Indonesia, aku membuat kelas daring untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cerebral palsy. Di akhir kegiatan, aku mengadakan kompetisi mengunggah Instagram story menggunakan lagu tersebut. Akhirnya, strategiku berhasil. Jumlah pendengar dan pengguna lagu pun meningkat.

Banyak pendengar yang tersentuh oleh lagu ini. Liriknya yang mendalam membuat mereka takjub. Mereka tidak menyangka bahwa seseorang dengan cerebral palsy mampu menulis lirik seperti itu. Menurutku, hanya otak yang lumpuh dan menjalar ke sebagian besar fisik, tetapi hati dan separuh akalku berfungsi sepenuhnya.

 

Mengunggah lagu ke platform digital streaming menjadi pengalaman pertama bagi saya. Pada tahap ini, selain berkas lagu, hal lain yang diperlukan adalah artwork atau sampul album. Artwork merupakan representasi visual dari sebuah karya musik.

Sebagai contoh, dalam lagu "Cinta Dari Cerebral Palsy", artwork ini merepresentasikan perasaan cinta yang kuat dari seorang penyandang cerebral palsy kepada semua makhluk hidup. Karya ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk menerima dan memberikan cinta. Selain itu, kehadiran dua orang, yang salah satunya duduk di kursi roda, menjadi penanda bahwa karya ini lahir tanpa batas dan penuh dengan kesetaraan.

Apa pun macam ragamnya, disabilitas bukanlah halangan bagi seorang insan untuk menginspirasi masyarakat dengan torehan prestasi dari karya ciptaannya. Kasih sayang berbuah kesetaraan menjadi pondasi awal berkembangnya kami. Pendidikan dan interaksi sosial yang setara dengan masyarakat umum, menjadi bibit untuk kami melakukan ketiga tahapan tersebut.

Aku menyukai diskusi sebagai sarana menggali wawasan dengan cara santai, hangat, dan akhirnya menciptakan keseruan tersendiri. Terutama ketika ilmu baru kutemukan serta mudah diterapkan menjadi sebuah karya. Intinya, jangan sampai rasa malu menutup ruang interaksi antara disabilitas dengan masyarakat umum.

Karena sejatinya, mereka seperti gunung dan pantai. Jelas, bumi sama untuk diinjak oleh keduanya. Hanya suasana saja yang memberikan sedikit ruang perbedaan.

Ruang Digital


Langkahku berlanjut ke ruang baru—sebuah dimensi yang memang seharusnya kumasuki dalam perjalanan hidupku. Program Digital Talent dari Komdigi RI menjadi wadah bagiku untuk mengasah potensi di bidang digital. Melalui program ini, aku mengikuti beberapa kelas pelatihan penyuntingan video yang membantuku membangun portofolio, khususnya pada fitur deploy yang menjembatani alumni program dengan perusahaan untuk peluang kerja atau magang.

Awalnya, aku mencoba melamar sebagai konten kreator di Komdigi. Tak berselang lama, tim Digital Talent menghubungiku untuk wawancara magang. Selama tiga bulan, aku memproduksi satu hingga dua konten "Day in My Life" setiap pekan sebagai bagian dari sarana promosi program tersebut, dengan tujuan meningkatkan literasi digital masyarakat Indonesia. Sebelumnya, aku juga telah mengikuti sertifikasi BNSP bidang penyuntingan video untuk meningkatkan kapasitas diri dan kepercayaan klien.

Perjalananku berkembang ke bidang kepenulisan melalui program magang daring di Penerbit Pustaka Riyadz. Setiap pekan, aku ditugaskan merancang ide kreatif untuk platform penerbitan tersebut. Di samping itu, aku terus mengasah keterampilan teknis lainnya. Saya mengikuti program Coding for Disability untuk mempelajari pengembangan situs web. Kini, aku mulai akrab dengan bahasa pemrograman seperti HTML, CSS, dan JavaScript. Bagiku, keterampilan ini adalah galeri seni untuk memamerkan karya tulisan maupun musikku, sejalan dengan semangat berkarya tanpa batas yang selalu kupegang sejak didiagnosis Cerebral Palsy.

 

Menembus Batas Ruang: Berkarya dan Beradaptasi di Era Digital


Hampir sembilan puluh persen aktivitasku dalam berkarya erat kaitannya dengan teknologi informasi, mulai dari tahap produksi hingga promosinya. Seperti petualangan ke alam liar yang memerlukan penunjuk arah, aku juga harus mengikuti perkembangan teknologi informasi. Sudah beberapa tahun ini, dunia semakin disederhanakan ilmu pengetahuannya oleh Kecerdasan Buatan (AI).

Kekuatan AI terletak pada data-data yang telah tersedia di internet, yang kemudian diolah dan disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Karena teknologi ini tergolong baru bagiku, aku tentu memerlukan panduan khusus untuk memanfaatkannya. Dari seorang kawan, aku mendapatkan informasi mengenai program pelatihan EQUAL yang diselenggarakan oleh Microsoft. Pelatihan ini mengajarkan para peserta untuk berkreasi membuat gambar menggunakan fitur AI bernama Copilot. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman agar bijak dalam menggunakan AI tanpa melanggar hak cipta.

Bagiku, kehadiran AI memberikan dampak positif yang luar biasa, khususnya bagi kawan-kawan disabilitas yang mempunyai banyak ide kreatif namun memiliki keterbatasan dalam mewujudkannya. Sebagai contoh dalam bidang pemrograman (coding), ide pembuatan website sederhana sebenarnya sudah ada di kepala, tetapi proses eksekusinya terkadang membingungkan. Di sinilah peran AI menjadi sangat penting dengan memasukkan prompt atau perintah yang sesuai dengan tampilan yang diinginkan pada website tersebut.

 

Menembus Batas Ruang: Berkarya dan Beradaptasi di Era Digital


AI dan coding tidak membuatku melupakan jati diriku sebagai seorang penulis puisi. Saat itu, di grup Facebook, aku melihat pengumuman ajakan menulis buku antologi dalam rangka hari jadi sebuah komunitas sastra. Tema buku tersebut kurang lebih mengenai keadaan Indonesia yang hari ini memang sedang tidak baik-baik saja.

Aku memang tidak punya pengaruh besar di negeri ini. Hanya saja, kendala-kendala yang aku dan kawan-kawan disabilitas alami semoga dapat menggugah para pemangku kepentingan. Pergerakanku kini menjadi investasi untuk mengejar Indonesia agar menjadi lebih inklusif bagi semua, khususnya para penyandang disabilitas yang beragam.

Entah setelah melihatku yang belajar menjadi konten kreator atau karena motivasi lainnya, beberapa kawan disabilitas mengikuti langkahku sebagai kreator di YouTube. Namun, menurutku, persaingan telah sangat ketat, ditambah kami yang belum banyak dikenal oleh masyarakat luas.

Masalah tersebut memunculkan ide baru dalam pikiranku. Gotong royong adalah identitas bangsa sejak dulu. Itulah yang seharusnya diterapkan agar kreator perintis dapat setara dengan publik figur yang berkecimbung dalam bidang ini. Caranya adalah pihak-pihak yang diikuti oleh banyak orang diwajibkan untuk mempromosikan konten kami.


MAU DOMAIN MURAH & HOSTING BERKUALITAS?
YUK KLIK TOMBOL DIBAWAH


5 Kotak Backlink Estetik

IDwebhost

Klik di sini!

domain murah

Klik di sini!

hosting murah

Klik di sini!

domain .id

Klik di sini!