Ribuan sel di otakku rusak akibat proses
tersebut. Aku bahkan tidak pernah menikmati ASI ibu. Sekali dipaksakan, aku
menangis kencang. Akibatnya, aku divonis mengidap Cerebral Palsy, kelumpuhan otak yang akan melekat seumur
hidup.
Cerebral Palsy tergolong disabilitas fisik yang membutuhkan
alat bantu kursi roda. Meski demikian, penyandang disabilitas memiliki hak
untuk mendapatkan pendidikan yang dilindungi oleh undang-undang, seperti UU
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan diperkuat oleh UU
Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Pasal 10. Kedua
undang-undang tersebut menjamin hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang
bermutu, inklusif, dan khusus.
Sayangnya, Cianjur tidak memiliki sarana
pendidikan khusus untuk disabilitas dengan klasifikasi ini. Di Jawa Barat,
Bandung menjadi satu-satunya kota yang menyediakan sekolah khusus bagi siswa
dengan Cerebral Palsy. Akhirnya, aku dan seorang asisten kemandirian
pindah dari Cianjur ke Bandung untuk menuntut ilmu.
Awalnya, aku sempat dicemooh oleh wali murid
dari teman-temanku. Mereka berpendapat bahwa orang tuaku membuangku ke kota
orang. Hal itu sempat mengusik pikiranku. Namun, para guru berupaya keras
membangkitkanku. Mereka mengalihkanku untuk memperdalam kemampuan penggunaan
komputer.
Sekolahku memiliki program kerja sama dengan
ICT Korea untuk mengadakan pelatihan IT. Di sana, aku mempelajari penggunaan
Microsoft Word, Powerpoint, dan Excel. Tujuannya agar aku dapat bersaing di
dunia kerja dengan masyarakat di luar kelompok disabilitas.
Mengembangkan Potensi
Diri
Pelatihan tersebut
diikuti juga oleh para alumni yang telah lulus dari sekolah. Sebagian di
antaranya bahkan telah memiliki usaha di beragam bidang. Suatu ketika, aku
mendapat informasi dari mereka tentang sebuah pelatihan wirausaha yang
diselenggarakan oleh sebuah bank swasta di Indonesia. Aku yang senang belajar,
akhirnya mengikuti pelatihan tersebut.
Selain secara luring (offline),
aku juga pernah mengikuti pelatihan secara daring (online) yang
diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk
mengasah dan memberikan wawasan baru seputar dunia kreatif bagi siswa di
provinsi ini. Pelatihan tersebut berfokus pada bidang content creator yang
sesuai dengan minatku, yaitu menulis dan berbicara.
Bakat berbicara dan
kreativitas itu terasah pada ekstrakurikuler Pramuka. Para guru membimbing
serta mendorongku untuk membuat aneka permainan sederhana dan edukatif. Karena
itu juga, aku diikutsertakan pada Jambore ABK Nasional hingga berhasil meraih
Juara 1 Gladi Tangkas.
Mengasah Kemampuan dan
Berani Berkompetisi
IT, wirausaha, dan
Pramuka sebenarnya hanya sampingan dari potensiku yang tergali di Bandung.
Sebenarnya, aku gemar menuangkan beragam rasa menjadi sebuah puisi. Bagiku,
puisi adalah media untuk bersuara tanpa batas dan tidak mengenal keterbatasan
fisik. Ia menjadi kumpulan kata yang jujur, merupakan luapan isi hati.
Awalnya, sisi ini
ditemukan oleh para guru. Saat itu, mereka melihatku tengah melamun sendiri.
Ketika kami di kelas, seorang guru berkata, "Daripada melamun, lebih baik
apa yang kamu rasakan dan pikirkan ditulis. Boleh jadi ke depannya kamu bisa
membuat buku seperti kakak tingkatmu.”
Aku tahu tidak mudah dan perlu banyak belajar untuk sampai pada titik menerbitkan sebuah buku. Perlombaan adalah metode belajar favoritku sebab sebuah karya dapat diberi nilai langsung oleh masyarakat yang diwakili oleh juri. Keadaan ini menjadi tuntunanku dalam memperindah setiap puisi.
Bertarung dengan selera juri akhirnya, sekolah membimbingku untuk belajar menjadi petarung handal dalam bidang puisi. Tingkat Provinsi Jawa Barat ternyata cukup menegangkan dengan banyaknya saingan. Namun, aku beruntung karena dengan latihan panjang, aku berhasil meraih juara 2.Menginspirasi Melalui
Karya dan Kolaborasi
Dari beberapa bidang, aku memilih bidang video
karena lebih mudah menghubungkannya dengan kepiawaianku dalam menulis puisi.
Awalnya, aku ragu meraih kemenangan karena sainganku bukan dari kalangan
disabilitas. Namun ternyata, konsep yang kutawarkan memiliki keunikan dibanding
karya lainnya. Aku menampilkan foto tempat ibadah di sekitar gambarku yang
sedang membaca puisi, dan itu menjadi keunikan tersendiri. Karena itu, pada
kegiatan ini aku dinobatkan sebagai juara favorit.
Pengalaman kompetisi tersebut menjadi modal
bagiku untuk bersaing dengan pemuda umum di luar penyandang disabilitas.
Persaingan ini, mengedepankan beragam potensi diri anak muda dari seluruh
Indonesia yang tercermin dari nama ajangnya, yaitu Duta Potensi Pemuda
Indonesia.
Digagas oleh Youth Ranger Indonesia, ajang ini
menjadi komunitas baru yang menambah ilmu dan keterampilanku. Cara
berkomunikasi adalah modal awal untuk menunjukkan potensi diri. Karena
potensiku di bidang kepenulisan, beberapa puisi tentang anak muda yang
berkaitan dengan lingkungan disabilitas pun tercipta.
Lewat karyaku, akhirnya gelar Duta Potensi Pemuda Inspiratif Indonesia
disematkan padaku. Aku merasa, gelar tersebut adalah peluang untuk menjadikan
Indonesia lebih inklusif, meskipun lingkupnya tidak terlalu besar. Misalnya,
dengan membuat lokakarya yang membahas tentang dunia disabilitas, khususnya Cerebral
Palsy.
Di ajang tersebut, salah satu tugasku menjadi
admin Instagram program ini. Membalas komentar, Direct Message (DM),
memposting kegiatan sahabat duta, dan memantau bincang-bincang secara langsung
sudah menjadi rutinitasku. Semua itu terasa mudah karena aku sudah lama
menggunakan gawai untuk berinteraksi di dunia maya.
Gawai adalah caraku melihat dunia dan dunia
melihatku dari alat ini. Aku beruntung sebab orang tuaku juga berpikir
demikian. Interaksi antarsesama manusia tidak terbatas oleh kekurangan fisik.
Bagiku, gawai dan teknologi yang menyertainya seperti pahlawan dengan
strateginya di zaman ini. Kemerdekaan berkomunikasi dan menunjukkan potensi
diri menjadi kian mudah tercipta.
Seperti halnya YouTube, menjadi ruang mataku
dengan dunia saling bertatapan hangat. Banyak ilmu baru yang kudapat dari ruang
ini, begitu pula, pengetahuanku yang sedikit dapat kubagikan pada dunia.
Aktivitas di YouTube erat kaitannya dengan
proses penyuntingan (editing) video. Tujuannya guna meningkatkan audio dan
visual agar pesan dari sebuah konten dapat tersampaikan dengan baik. Secara
perlahan, dengan dibantu saudara, video sederhana dengan kualitas mumpuni dapat
tercipta.
Isi kontennya, aku teringat pada tips dari
seseorang. Saat itu, aku memintanya untuk menerbitkan buku puisi. Beliau
menyarankan aku untuk menyelipkan tulisan esai di antara beberapa puisi. Mulai
dari sana, aku kian menggemari membuat tulisan esai untuk digabungkan pada
puisi dalam buku pertamaku.
Setelah bertahun-tahun lamanya menulis puisi,
di pertengahan bangku SMA aku menerbitkan buku kumpulan puisi pertama. Buku ini
sebagai rangkuman beberapa puisi yang diselipkan esai sesuai saran dari
seseorang. Beliau adalah seorang pegiat literasi yang memahami kegemaran para
pencinta buku.
Buku pertama yang kuluncurkan berjudul "RINDU KUNCI MIMPI".
Pemilihan judul itu sesuai dengan tema besar dari keseluruhan gabungan puisi
dan esai yang menjadi isinya. Selama menimba ilmu di Bandung, tidak bisa
dimungkiri ada besarnya rindu pada keluarga, teman, serta suasana kota Cianjur
yang khas. Kunci seperti jembatan indah yang menghubungkan kenangan dengan masa
depan yang kucita-citakan. Mimpi yang menjelma menjadi impian kurangkai indah
dalam buku ini.
Beberapa esai di "Rindu Kunci Mimpi"
memicuku untuk menulis karya yang lebih panjang. Rasanya, terlalu banyak momen
berharga dalam hidup yang sayang jika tidak dituangkan menjadi sebuah karya. Di
masa sekolah dulu, aku gemar menulis di dalam blog, dan pengalaman hidup
menjadi isi utamanya.
Saat itu aku tahu, belum banyak sahabat sesama
Cerebral Palsy yang mengangkat unik, suka, dan duka mereka menjalani
hidup. Hingga aku pun memberanikan diri memperluas tulisan di blog dalam bentuk
buku. Diberi judul "REAL STORY
CEREBRAL PALSY", buku ini menceritakan seputar dinamika hidupku
yang penuh dengan lika-liku manis pahit di dalamnya.
"REAL STORY CEREBRAL PALSY"
menjadi wujud karya tanpa batas. Di mana, keterbatasan fisik bukan penghalangku
untuk mencerdaskan anak bangsa melalui sebuah buku. Rasa bangga menjadi
penyandang Cerebral Palsy pun tercermin dalam buku tersebut, yang
berbuah cita-cita luhur agar Indonesia lebih inklusif.
"Lakukanlah apa yang kau cintai,"
menjadi kutipan yang kuterapkan untuk menjadikan Indonesia lebih inklusif dari
lingkup Kabupaten Cianjur. Sebagai pencinta musik Indonesia, aku beruntung
sebab grup band lokal dan seorang solois Cianjur datang padaku.
Dengan berbekal kemampuan menulis, kami
berkolaborasi. Lirik hasil dariku, sementara nada dan vokal adalah tugas
mereka. Band D'Kamp Project membawakan lagu berjudul "Cinta Dari Cerebral
Palsy." Dengan judul yang hangat, kuharap pendengar dapat memahami
kesetaraan. Bahwa Cerebral Palsy bukanlah penghalang seseorang untuk
memberi dan menerima indahnya cinta sesuai dengan kemampuan serta kebutuhannya.
Ipong juga turut bersenandung lewat salah satu
puisi yang terdapat dalam buku "Rindu Kunci Mimpi." "Malaikat
Yang Kunanti" adalah puisi tentang hangatnya kebaikan seseorang padaku
di tengah dinginnya udara Bandung. Dan selanjutnya, menjadi bayangan penantian
kebahagiaan hidupku di masa depan.
Selain menulis kedua liriknya, aku pun menjadi
tokoh utama pemasaran lagu tersebut di pasar maya. Menyunting video menjadi
kemampuan dasar dalam bidang ini. Sebab, aku rasa warganet lebih gemar menonton
secara visual dibanding lainnya. Namun demikian, layanan musik digital streaming
juga kususupi guna menambah jumlah pendengar kedua senandungnya.
Setelah lagu "Cinta dari Cerebral
Palsy" dirilis, aku segera mempromosikannya. Pada masa penobatanku
sebagai Duta Potensi Pemuda Inspiratif Indonesia, aku membuat kelas daring
untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cerebral palsy. Di
akhir kegiatan, aku mengadakan kompetisi mengunggah Instagram story menggunakan
lagu tersebut. Akhirnya, strategiku berhasil. Jumlah pendengar dan pengguna
lagu pun meningkat.
Banyak pendengar yang tersentuh oleh
lagu ini. Liriknya yang mendalam membuat mereka takjub. Mereka tidak menyangka
bahwa seseorang dengan cerebral palsy mampu menulis lirik seperti itu.
Menurutku, hanya otak yang lumpuh dan menjalar ke sebagian besar fisik, tetapi
hati dan separuh akalku berfungsi sepenuhnya.
Mengunggah lagu ke platform digital
streaming menjadi pengalaman pertama bagi saya. Pada tahap ini, selain berkas
lagu, hal lain yang diperlukan adalah artwork atau sampul album. Artwork
merupakan representasi visual dari sebuah karya musik.
Sebagai contoh, dalam lagu "Cinta
Dari Cerebral Palsy", artwork ini merepresentasikan perasaan
cinta yang kuat dari seorang penyandang cerebral palsy kepada semua
makhluk hidup. Karya ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak
menghalangi seseorang untuk menerima dan memberikan cinta. Selain itu,
kehadiran dua orang, yang salah satunya duduk di kursi roda, menjadi penanda
bahwa karya ini lahir tanpa batas dan penuh dengan kesetaraan.
Apa pun macam ragamnya, disabilitas bukanlah
halangan bagi seorang insan untuk menginspirasi masyarakat dengan torehan
prestasi dari karya ciptaannya. Kasih sayang berbuah kesetaraan menjadi pondasi
awal berkembangnya kami. Pendidikan dan interaksi sosial yang setara dengan
masyarakat umum, menjadi bibit untuk kami melakukan ketiga tahapan tersebut.
Aku menyukai diskusi sebagai sarana menggali
wawasan dengan cara santai, hangat, dan akhirnya menciptakan keseruan
tersendiri. Terutama ketika ilmu baru kutemukan serta mudah diterapkan menjadi
sebuah karya. Intinya, jangan sampai rasa malu menutup ruang interaksi antara
disabilitas dengan masyarakat umum.
Karena sejatinya, mereka seperti gunung dan
pantai. Jelas, bumi sama untuk diinjak oleh keduanya. Hanya suasana saja yang
memberikan sedikit ruang perbedaan.
Ruang Digital
Awalnya, aku mencoba melamar sebagai
konten kreator di Komdigi. Tak berselang lama, tim Digital Talent menghubungiku
untuk wawancara magang. Selama tiga bulan, aku memproduksi satu hingga dua
konten "Day in My Life" setiap pekan sebagai bagian dari
sarana promosi program tersebut, dengan tujuan meningkatkan literasi digital
masyarakat Indonesia. Sebelumnya, aku juga telah mengikuti sertifikasi BNSP
bidang penyuntingan video untuk meningkatkan kapasitas diri dan kepercayaan
klien.
Perjalananku berkembang ke bidang
kepenulisan melalui program magang daring di Penerbit Pustaka Riyadz. Setiap
pekan, aku ditugaskan merancang ide kreatif untuk platform penerbitan tersebut.
Di samping itu, aku terus mengasah keterampilan teknis lainnya. Saya mengikuti
program Coding for Disability untuk mempelajari pengembangan situs web.
Kini, aku mulai akrab dengan bahasa pemrograman seperti HTML, CSS, dan
JavaScript. Bagiku, keterampilan ini adalah galeri seni untuk memamerkan karya
tulisan maupun musikku, sejalan dengan semangat berkarya tanpa batas yang
selalu kupegang sejak didiagnosis Cerebral Palsy.
Menembus Batas Ruang:
Berkarya dan Beradaptasi di Era Digital
Hampir
sembilan puluh persen aktivitasku dalam berkarya erat kaitannya dengan
teknologi informasi, mulai dari tahap produksi hingga promosinya. Seperti
petualangan ke alam liar yang memerlukan penunjuk arah, aku juga harus
mengikuti perkembangan teknologi informasi. Sudah beberapa tahun ini, dunia
semakin disederhanakan ilmu pengetahuannya oleh Kecerdasan Buatan (AI).
Kekuatan
AI terletak pada data-data yang telah tersedia di internet, yang kemudian
diolah dan disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Karena teknologi ini
tergolong baru bagiku, aku tentu memerlukan panduan khusus untuk
memanfaatkannya. Dari seorang kawan, aku mendapatkan informasi mengenai program
pelatihan EQUAL yang diselenggarakan oleh Microsoft. Pelatihan ini mengajarkan
para peserta untuk berkreasi membuat gambar menggunakan fitur AI bernama
Copilot. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman agar bijak dalam
menggunakan AI tanpa melanggar hak cipta.
Bagiku,
kehadiran AI memberikan dampak positif yang luar biasa, khususnya bagi
kawan-kawan disabilitas yang mempunyai banyak ide kreatif namun memiliki
keterbatasan dalam mewujudkannya. Sebagai contoh dalam bidang pemrograman (coding),
ide pembuatan website sederhana sebenarnya sudah ada di kepala, tetapi proses
eksekusinya terkadang membingungkan. Di sinilah peran AI menjadi sangat penting
dengan memasukkan prompt atau perintah yang sesuai dengan tampilan yang
diinginkan pada website tersebut.
Menembus
Batas Ruang: Berkarya dan Beradaptasi di Era Digital
AI
dan coding tidak membuatku melupakan jati diriku sebagai seorang penulis puisi.
Saat itu, di grup Facebook, aku melihat pengumuman ajakan menulis buku antologi
dalam rangka hari jadi sebuah komunitas sastra. Tema buku tersebut kurang lebih
mengenai keadaan Indonesia yang hari ini memang sedang tidak baik-baik saja.
Aku
memang tidak punya pengaruh besar di negeri ini. Hanya saja, kendala-kendala
yang aku dan kawan-kawan disabilitas alami semoga dapat menggugah para pemangku
kepentingan. Pergerakanku kini menjadi investasi untuk mengejar Indonesia agar
menjadi lebih inklusif bagi semua, khususnya para penyandang disabilitas yang
beragam.
Entah
setelah melihatku yang belajar menjadi konten kreator atau karena motivasi
lainnya, beberapa kawan disabilitas mengikuti langkahku sebagai kreator di
YouTube. Namun, menurutku, persaingan telah sangat ketat, ditambah kami yang belum banyak dikenal oleh masyarakat luas.
Masalah tersebut memunculkan ide baru dalam pikiranku. Gotong royong adalah identitas bangsa sejak dulu. Itulah yang seharusnya diterapkan agar kreator perintis dapat setara dengan publik figur yang berkecimbung dalam bidang ini. Caranya adalah pihak-pihak yang diikuti oleh banyak orang diwajibkan untuk mempromosikan konten kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar